Selasa, 09 April 2013

BerGereja di Mall (GJJS-GEREJA JALAN-JALAN SAJA), bolehkah?

Setiap kali saya mengikuti khotbah Joel Osteen melalui televisi, maka di akhir khotbahnya dia selalu menutup dengan doa pertobatan dan sebuah pesan akhir yang menarik "Masuklah ke gereja terdekat yang berlandaskan Alkitab!".

Suatu fenomena yang unik sedang terjadi di Indonesia saat ini adalah Jemaat gereja yang suka berpindah-pindah gereja, atau seringkali disebut Jemaat Jalan-Jalan, Jemaat Partisipan ataupun sebutan lainnya. Yang jadi pertanyaan, apakah hal ini dibolehkan?

TELISIK ALKITAB
Sebenarnya tidak ada batasan dalam Alkitab mengenai hal ini, artinya jemaat dibolehkan untuk berpindah-pindah gereja selama masih dalam doktrin Alkitabiah.
Itu sebabnya Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 1:11-13
"Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. 
Yang aku maksud ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.
Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?"
Jadi cukup jelas bahwa sebenarnya tidak ada pembedaan dari inti penyembahan yang harusnya berpusat pada Kristus. Hanya saja saat ini kita memang terpisah dalam beberapa "golongan" (Paulus, Apolos, dll) yang biasa kita sebut dengan Sinode. Jadi memang ada yang berbeda, karena ada yang dari GBI, GPIB, GKI, Katolik, Baptis dan lainnya. TAPI HARUSNYA ITU TIDAK BOLEH DIJADIKAN PERBEDAAN MENDASAR.

ALASAN KEPINDAHAN
Setelah saya simpulkan, berikut adalah beberapa alasan orang untuk pindah gereja:

1. Ikut Suami/Istri
Hal ini adalah penyebab terbanyak alasan orang untuk pindah gereja. Jika sang suami bergereja di HKBP (Gereja suku Batak), maka istri biasanya akan ikut (walaupun istrinya bukan orang Batak) dan juga seterusnya.
Tapi ada beberapa orang juga yang tetap bergereja secara terpisah (suami bergereja Katolik, istri di Protestan).
Untuk hal ini tentu saja kita harus pilah-pilah:
- Jika perpindahan terjadi di satu skup gereja sejenis (GPIB ke GKI atau GKY) maka hal ini mungkin tidak menjadi masalah.
- Jika perpindahan terjadi di gereja yang berbeda secara doktrin (contoh: Gereja Baptis ke Gereja Katolik; atau Gereja Protestan ke Gereja Advent), maka hal inilah yang akan menjadi masalah.
Solusi:
Saya melihat dari objektivitas. Tidak jadi masalah untuk perpindahan jenis yang kedua, selama perpindahan terjadi karena adanya pemahaman yang benar terhadap gereja yang akan ditempati. Artinya seorang istri (yang tadinya Protestan) hanya boleh berpindah gereja di Advent ataupun Katolik selama perpindahan tersebut terjadi karena proses pemahaman baru terhadap doktrin gereja yang bersangkutan.

2. Pindah domisili
Contoh: GMIM yang merupakan gereja di Minahasa (Manado) adalah gereja Protestan yang hanya ada di Minahasa. Jika orang tersebut pindah ke Jakarta, maka otomatis dia harus berganti status jemaat menjadi GPIB ataupun GKI atau Gemindo.

3. Perubahan Keyakinan
Hal inilah yang saat ini marak terjadi, khususnya di kota-kota besar. Sekali lagi ini seharusnya tidak menjadi masalah, namun pada kenyataannya muncul perdebatan. Perdebatan yang seringkali memunculkan asumsi. Dan ada beberapa asumsi yang menurut saya salah, yaitu:
- Jika pindah gereja harus dibaptis ulang
Saya ingat, bahwa saya pertama kali dibaptis selam di gereja Advent. Tapi ketika saya kemudian bergabung dengan gereja aliran Karismatik, maka saya diperintahkan untuk melakukan baptisan selam yang kedua.
Begitu saya menanyakan alasannya, maka alasannya sangat cetek, yaitu: karena setiap gereja memiliki aturannya sendiri.
Dengan kata lain, baptisan selam saya yang pertama (dilakukan dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus) dianggap tidak sah sehingga harus diulang.
- Pindah gereja tanpa memerlukan prosedur
Memang tidak ada yang salah secara Alkitabiah. Tapi saya menyarankan jika Anda ingin pindah gereja, lakukan prosedur yang benar. Karena hal ini akan berguna bagi Anda ketika harus melakukan proses administrasi dalam melakukan upacara (pernikahan, kematian, dll).

4. Mencari suasana baru
Jika saya berjemaat sebagai jemaat gereja ABC, dan saya merasa bahwa gereja ini memiliki komunitas yang baik, hanya saja pemberitaan Firman Tuhan-nya agak membosankan (bukan Firmannya yang membosankan tapi cara pengkhotbah membawakannya), sehingga saya mencoba mencari bergereja di gereja XYZ karena pengkhotbah di gereja XYZ lebih mudah dipahami dan membuat iman serta pengetahuan saya tentang Kristus semakin meningkat.
Hal ini seharusnya tidak jadi masalah. Yang menjadi maslaah adalah kalau Anda lebih sering beribadah di XYZ, tapi status Anda masih jemaat ABC. Hal ini tentu saja menjadi kerugian bagi gereja ABC, karena Anda lebih sering memberikan persembahan dan persepuluhan ke gereja XYZ, tapi ketika meminta pelayanan kedukaan, maka gereja ABC yang harus menanggung. Secara administrasi, tentu saja hal ini kurang baik. Jauh lebih baik pindah saja ke gereja XYZ.

Jika gereja Anda mengalami kejadian seperti skenario keempat
Akhirnya muncul pertanyaan yang sebetulnya cukup konyol:
"Jangan lihat Pendetanya/Pengkhotbahnya, tapi lihat apa yang disampaikannya, lihat Firmannya".

Secara theologis sangat tepat, tapi satu kutipan dari seorang pakar komunikasi "Apa yang Anda sampaikan, sama pentingnya dengan apa yang Anda sampaikan".
Artinya, seorang pengkhotbah harus memperbaiki caranya menyampaikan khotbah. Karena dalam teologi kita mengenal dua faktor khotbah yang efektif:
1) Hermeunetik: Proses penafsiran dan mencari kebenaran dari ayat alkitab.
2) Homiletik: Proses penyampaian kebenaran.

5. Sakit hati
Inilah alasan terburuk seseorang untuk pindah gereja, yaitu karena sakit hati terhadap Pendeta, teman jemaat, Penatua/Diaken dan lainnya.
Banyak dari teman saya yang akhirnya pindah gereja karena sakit hati. Kemudian tiba-tiba dia menyatakan bahwa dia mendengar suara Tuhan agar pindah gereja. 2 tahun setelah dia mendengar suara Tuhan itu, akhirnya dia berdamai dengan orang di gereja lamanya, dan akhirnya dia berkata "Tuhan menyuruh saya untuk kembali bergabung ke gereja lama saya".
Apa yang terjadi dengan suara Tuhan?

SARAN
Saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menentukan berganti pekerjaan atau tidak. Saya akan menimbang banyak hal. Harusnya hal inilah yang menjadi pemikiran kita ketika berganti gereja. Jangan hanya karena masalah sederhana, lalu kemudian dengan mudahnya kita berganti gereja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar