Senin, 08 November 2010

DAFTAR PENDETA DAN PENGKHOTBAH KRISTEN TERBESAR DI INDONESIA. H.L. Senduk: Pendeta Paling Berpengaruh di Indonesia.

Berikut adalah daftar para Pendeta terbesar di Indonesia. Lepas dari segala kontroversi yang ada, saya mencoba menampilkan daftar ini apa adanya dan didasarkan atas luasnya jangkauan pelayanan yang mereka capai. Urutan yang ada dibawah bukanlah berdasarkan peringkat


Sekali lagi, saya yakin anda mempunyai versi anda masing-masing, tapi tujuan dari penulisan ini bukanlah untuk membuat peringkat mengenai siapa yang terbesar, melainkan sebagai bahan pembelajaran dan pola dari penginjilan yang mungkin akan memotivasi kita untuk lebih inovatif lagi.



1. Yesaya Pariadji
-Pelayanan Mukjizat Terdahsyat di Indonesia-
-Gembala dan Ketua Sinode Gereja Tiberias Indonesia- 
Pastor Yesaya Pariadji adalah seorang non-Kristen dan orang yang sangat sukses dalam karirnya - dalam pemerintahan dan bisnis. Pada tahun 1985, ia mengalami pertemuan supranatural dengan Tuhan Yesus, di mana Tuhan mengundangnya untuk Kerajaan Surga dan menyuruh dia untuk membaca Alkitab. Pada awalnya dia menolak dan kemudian mulai membaca Alkitab ketika ia sakit dan lumpuh. Setelah itu, ia disembuhkan secara ajaib.Dia menerima tugas khusus dari Tuhan untuk mendirikan sebuah gereja yang bernama Tiberias, seperti di gereja mula-mula, di mana orang yang mendapatkan disembuhkan dan perubahan hidup. Pengabaran itu dilakukan melalui sarana Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan.


Pdt. Yesaya Pariadji adalah Pendeta yang paling banyak diserang karena pengajarannya lebih dari Pendeta manapun di Indonesia baik dari kalangan non-Kristen bahkan dari dalam kalangan Kristen sendiri. Namun hal inilah yang justru membuatnya semakin dikenal karena dia sendiri tidak pernah membalas kritik orang-orang tersebut dan terus fokus kepada pelayanan dan misi yang Tuhan berikan kepadanya.


2. H.L. Senduk  (4 Agustus 1917-Jakarta, 26 Februari 2008)
-SANG PENDIRI GEREJA BETHEL INDONESIA-
Pdt Prof Dr Ho Lukas Senduk, lebih dikenal dengan sebutan HL Senduk atau Om Ho, terlahir Ho Liong Seng (Ternate, 4 Agustus 1917-Jakarta, 26 Februari 2008) adalah seorang hamba Tuhan dan pendiri Gereja Bethel Indonesia.
Pada 6 Oktober 1970, di Wisma Oikumene, Sukabumi, Jawa Barat, ia bersama beberapa temannya mendirikan GBI (Gereja Bethel Indonesia) karena tidak dapat bekerja sama dengan rekan-rekan lainnya. Ia menjadi ketuanya pada Sidang Sinode II, di Jakarta, tahun 1972. Tugas ini, ia kerjakan sampai tahun 1994, Sidang Sinode X GBI, di Jakarta. Selanjutnya ia melayani sebagai Ketua BPR, Badan Pembina Rohani GBI.

STE (Sekolah Theologia Extension) didirikannya pada tahun 1972; buku-buku pelajaran ditulisnya sendiri. Tahun 1981, mulai menyelenggarakan program Strata Satu dan merubah nama menjadi Institut Theologia dan Keguruan Indonesia (ITKI) pada tahun 1983. Program Strata Dua dimulai pada tahun 1991. Pada tahun 1990, ia mendapat gelar Profesor Emeritus dari Sekolah Teologi COG. Tahun 1998, ia membuka pelayanan pendidikan teologi jarak jauh melalui Sekolah Tinggi Teologi Terbuka Nusantara.

Pada masa kepemimpinannya, GBI menjadi anggota Dewan Pantekosta Indonesia (DPI), mendirikan Persekutuan Injili Indonesia (PII), dan masuk anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).

Pdt HL Senduk berpulang pada 26 Februari 2008, setelah lebih dahulu ditinggal istrinya tercinta, dan meninggalkan visi 10000 gereja GBI bagi generasi berikutnya.


3. Romo MangunWijaya
-Bapak bagi Kaum Miskin-

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun), dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik (bahasa Jawa untuk "rakyat kecil"). Dia juga dikenal dengan panggilan populernya, Rama Mangun (atau dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa).
Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.
Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Kali Code, Yogyakarta.
Perjuangannya dalam membela kaum miskin, tertindas dan terpinggirkan oleh politik dan kepentingan para pejabat dengan "jeritan suara hati nurani" menjadikan dirinya beroposisi selama masa pemerintahan Presiden Soeharto.





4. Niko Nyotorahardjo
-Pemuji dan Pengarang Lagu Rohani Indonesia Terbesar-
-Gembala GBI Senayan (Ex. GBI Bethany Jakarta)
Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo atau yang lebih dikenal dengan nama Pendeta Niko (20 Februari 1949 - Bondowoso, Jawa Timur) adalah seorang pendeta dan tokoh gereja di Indonesia. Ia adalah Gembala Sidang dari GBI Bethany Jakarta yang kemudian menurunkan nama jemaat lokal "Bethany" dan menyebut dirinya GBI saja. 

Pada tahun 1988 dipercayakan oleh Sinode Majelis GBI Bethany (pada waktu itu) yang berpusat di Surabaya, untuk membuka dan menggembalakan GBI Bethany di wilayah Indonesia Bagian Barat. Hal ini ditandai dengan Ibadah Perdana GBI Bethany Jakarta pada hari Minggu, 4 September 1988 di Gedung Wisma Karsa Pemuda - Senayan. Dalam kelanjutannya, GBI Bethany wilayah Barat di bawah penggembalaan Pdt Niko berkembang sangat pesat baik dari jumlah cabang yang telah mencapai sekitar 400an cabang gereja lokal di Indonesia dan sekitar 70 cabang di luar negeri dengan sekitar 170 ribu jemaat.

Gereja ini awalnya adalah GBI Bethany "Barat" yang merupakan pemekaran GBI Bethany Surabaya yang dipimpin Pdt. Alex Abraham. Tahun 2000, Sinode GBI kembali meneguhkan keputusan 1997 tentang penanggalan nama-nama jemaat lokal. Akhirnya, pada tahun 2002, GBI Bethany Barat (di bawah Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo) dan Timur (di bawah Pdt. Dr. Ir. Timotius Arifin Tedjasukmana) menanggalkan nama Bethany. Sementara itu, Bethany Wilayah Indonesia Tengah (Bethany Pusat Surabaya) menolak menurunkan nama Bethany.

Tahun 2001, Pdt. Niko mendapatkan gelar Doctor of Divinity, sebuah gelar kehormatan, dari Church of God, Lee University, Cleveland, Tennessee, Amerika Serikat.


5. Gilbert Lumoindong
-Penginjil dan "Televangelis" Terbesar Indonesia-
-Gembala GBI Glow-
Pdt Gilbert Lumoindong STh. atau yang lebih dikenal dengan nama Pendeta Gilbert atau GL, lahir di Jakarta, 26 Desember 1966. Pdt Gilbert lumoindong telah benar-benar menyerahkan hidupnya kepada Tuhan sejak ia berusia 10 tahun, setelah beberapa saat setelah dengan ajaib dia menerima kesembuhan dari penyakit syaraf. Ketika ia masih remaja (17 tahun), ia mulai berkhotbah dan berpartisipasi aktif dalam pemuda Kristen dan layanan siswa. Panggilan untuk melayani Tuhan adalah sangat ditentukan pada saat dia pergi ke Institut Teologi dan Pendidikan Indonesia (ITKI) di Jakarta dan menyelesaikan studinya disana.

Nama Gilbert Lumoindong mulai dikenal saat ia bergabung dalam pelayanan Gospel Overseas (GO) Studio dan menjadi host acara siaran penyegaran rohani Kristen Protestan di RCTI di tahun 1991. Tak dipungkiri, karena seringnya muncul di layar televisi, pamornya pun kian meningkat. Apalagi, ia juga sering mendapat permintaan untuk menjadi pembicara di berbagai KKR dan acara-acara rohani lainnya.

Pengkhotbah yang menyampaikan khotbahnya dengan jenaka ini adalah Pendeta yang paling sering mengadakan KKR yang bukan hanya diadakan oleh gerejanya sendiri (GBI Glow) tetapi juga diundang oleh gereja-gereja serta persekutuan inter-denominasi baik di dalam ataupun di luar negeri. Sebuah majalah Kristen bahkan menyebutnya sebagai "Tele-vangelis" karena dia sangat memaksimalkan sarana-sarana penginjilan seperti TV dan Radio.


6. Franz Magnis-Suseno
-Budayawan dan Filsuf Sejati-
Prof. Dr. Dr.-h.c. Franz Magnis-Suseno, SJ (nama asli: Franz Graf von Magnis atau nama lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis (lahir di Eckersdorf, Silesia, Jerman-Nazi (kini Bożków, Nowa Ruda, Polandia), 26 Mei 1936; umur 74 tahun) adalah seorang tokoh Katolik dan budayawan Indonesia. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Magnis-Suseno juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Sebagai seorang pastur Magnis-Suseno memiliki panggilan akrab Romo Magnis.
Magnis-Suseno datang ke Indonesia pada tahun 1961 pada usia 25 tahun untuk belajar filsafat dan teologi di Yogyakarta. Tiba di Indonesia, dia langsung mempelajari bahasa Jawa untuk membantunya berkomunikasi dengan warga setempat. Setelah ditahbiskan menjadi Pastor, ia ditugaskan untuk belajar filsafat di Jerman sampai memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dengan disertasi mengenai Karl Marx.
Sebelum menjadi warganegara Indonesia pada tahun 1977, Magnis-Suseno adalah seorang warga Jerman yang bernama Franz Graf von Magnis. Saat berganti kewarganegaraan, dia menambahkan 'Suseno' di belakang namanya.
Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan artikel. Buku "Etika Jawa" dituliskan setelah ia menjalani sabbatical year di Paroki Sukoharjo Jawa Tengah. Buku lain yang sangat berpengaruh adalah "Etika politik" yang menjadi acuan pokok bagi mahasiswa filsafat dan ilmu politik di Indonesia. Magnis dikenal kalangan ilmiah sebagai seorang cendekiawan yang cerdas dan bersahabat dengan semua orang tanpa pandang bulu. Banyak kandidat doktor yang merasa dibantu dalam menyelesaikan disertasinya.
Franz Magnis mendapat gelar doktor kehormatan di bidang teologi dari Universitas Luzern, Swiss.





7. Stephen Tong
-Pendeta Multi-Talenta serta Pengajar Doktrin Paling Berpengaruh-
-Gembala Gereja Reformed Injili Indonesia Kemayoran-
Stephen Tong (lahir di Xiamen, provinsi Fujian, RRC 1940). Ia kemudian menjadi warganegara Indonesia dan saat ini tinggal di Jakarta dan sejak usia 17 tahun telah dipanggil untuk menjadi penginjil. Ia adalah salah satu tokoh teologi Reformed terkemuka, mengadakan seminar-seminar di seluruh dunia secara teratur setiap tahun. Ia juga mendirikan Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) dan anggota International Consultants of the Lausanne Committee of World Evangelization. Selain seorang pendeta, ia juga seorang komposer, konduktor, dan arsitek
.
Pdt. Stephen Tong selama 25 tahun mengajar teologi dan filosofi di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang dan saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) di Jakarta yang ia dirikan. Ia telah menulis lebih dari 75 buku. Pada tahun 1990 ia mendirikan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), termasuk sebuah seminari, Institut Reformed, Jakarta Oratorio Society, departemen literatur, dan pusat penerjemahan teologi, serta pusat aktivitas-aktivitas evangelistik, seminar, dan konseling. Pada tahun 1996 Pdt. Tong mendirikan Reformed Institute for Christianity and 21st Century di Washington D.C., Amerika Serikat.

Ia dikenal sebagai pengritik keras gerakan Karismatik, New Age Movement, Postmodernisme, Seni Kontemporer, filosofi, dan Teologi Kemakmuran. Sebagai pendeta, ia memiliki pengetahuan luas di bidang seni, musik, filsafat, sejarah, dan arsitektur. Ia telah menulis banyak lagu gereja, menulis banyak buku rohani dan merancang beberapa bangunan gereja.

8. Jacob Nahuway
-Model Pengkhotbah Modern Indonesia-
-Gembala GBI Mawar Saron- 
Jacob Nahuway adalah pendiri dan juga Pastor Senior Gereja Bethel Indonesia Mawar Saron dengan ± 10.000 anggota gereja dengan lebih dari lima belas cabang gereja di seluruh Indonesia dan satu cabang di Belanda. Yakub Nahuway telah melayani GBI Mawar Saron sejak tahun 1978.

Jacob Nahuway menerima gelar Sarjana Teologi dari Seminari Bethel (sekarang Institut Teologia dan Keguruan Indonesia) dan Sekolah Teologi Jakarta (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta). Ia mendapatkan beasiswa untuk mendapatkan gelar Master of Arts dalam Pertumbuhan Gereja dari Seoul, Korea Selatan. Dia juga menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Biola University di Los Angeles, California, Amerika Serikat.


Sejak awal 1980-an, Jacob Nahuway telah dikenal sebagai salah satu pengkhotbah unggul di Indonesia. Ia telah melakukan pertemuan kebangkitan di banyak lapangan sepak bola di seluruh Indonesia sejak awal 1980-an. Jacob Nahuway telah berkelana di seluruh Indonesia untuk memberitakan Injil tanpa ragu-ragu. Ia sangat terkenal karena kerendahan hati dan pelayanannya telah menjadi inspirasi bagi para pendeta di Indonesia dan seluruh dunia.


Selain khotbah, Jacob Nahuway juga seorang guru di Pertumbuhan Gereja besar di Seminari Bethel. Dia juga berbicara dalam seminar di seluruh Indonesia dan dunia. Dengan AH Mandey, Jacob Nahuway membuat gerakan di gereja-gereja Pantekosta di Indonesia sejak tahun 2006.


Jacob Nahuway adalah Ketua saat ini denominasi Gereja Bethel Indonesia untuk periode kedua. Beliau juga ketua A.M.A. (Asian Misi Asosiasi) untuk periode ketiga. Dan dia juga adalah Anggota Dewan C.G.I. (Pertumbuhan Gereja Internasional) yang didirikan oleh Dr David Yonggi Cho di Seoul, Korea Selatan.


9. Abraham Alex Tanuseputra
-Pelopor Pujian dan Penyembahan di Indonesia-
-Gembala Gereja Bethany Surabaya- 
Pdt Abraham Alex Tanuseputra atau Pdt Alex (lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 1 Juni 1941; umur 69 tahun) adalah seorang pendeta dan tokoh gereja di Indonesia. Ia merupakan pendiri dan Ketua Umum dari Sinode Gereja Bethany Indonesia untuk periode 2003-2007.

Pada tahun 1987, sebuah gedung gereja di Jl. Manyar Rejo II/36-38 selesai dibangun. Pada saat itu, jemaat GBI yang digembalakannya telah mencapai 2.000 jiwa dari 7 orang pada tahun 1977. Pada tahun 1987 ini, diperkenalkan visi slogan "Successful Bethany Families". Pada tahun yang sama, tak lama setelah gedung GBI Bethany Jl. Manyar Rejo berdiri, Pdt. Alex memulai kembali visi pembangunan Graha Bethany di Jalan Nginden, Surabaya. Gedung ini selesai dibangun pada tahun 2000 dan memiliki kapasitas 20.000 orang jemaat. Gedung ini dianggap sebagai gedung gereja terbesar di Asia Tenggara.


Pada 2009, dimulai pembangunan tahap kedua Graha Bethany Nginden dengan jumlah jemaat menjadi 35.000 dalam satu kali ibadah, dan rencananya akan diresmikan pada SPGI 2010.
Saat ini, jumlah jemaat yang dipercayakan untuk digembalakan adalah sebesar 70.000 (Graha Bethany) dan 135.000 orang di kota Surabaya.

10. Edy Leo
Adalah salah satu Penatua Abbalove Ministries. Beliau dikenal dengan pengajaran Hati Bapa. Aktif mengembangkan konsep revolusi penyembahan yang dikenal dengan sebutan Prophetic Priestly Worship, DNA gereja sel (mengalami Kristus dan membangun hubungan). Telah banyak memberkati banyak gereja di Indonesia dan bangsa-bangsa, antara lain Korea Selatan, Bangladesh, Mongolia, Malaysia, India, Jepang, Taiwan, Cina, Australia, Brasil, Kanada dan Amerika Serikat.

Pelayanan Abbalove Ministries berawal dari sebuah persekutuan kecil yang dipimpin oleh Sofjan Sutedja, pada sekitar awal tahun 1980. Kemudian Samiton Pangellah dan Eddy Leo bergabung bersama di dalam persekutuan tersebut.
Dari pelayanan yang kecil ini, lahir pelayanan lainnya, seperti perpustakaan, vocal group, dan kelompok tumbuh bersama. Pelayanan misi mulai dilakukan ke Tangerang, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Palembang dan Medan. Kepemimpinan mulai terbentuk ketika mereka mempelajarinya dari kepemimpinan gereja-gereja lain. Pada tahun 1983, lewat seminar Jeff Hammond, seorang hamba Tuhan asal Australia, Samiton mendapatkan pengertian tentang visi kesatuan tubuh Kristus, gereja sekota dan kepenatuaan majemuk.
Pada tahun 1986, tiga serangkai yakni Sofjan Sutedja, Samiton Pangellah dan Eddy Leo ditetapkan sebagai pemimpin di jemaat ini. Selama tujuh tahun berikutnya terjadi pertumbuhan jemaat di dalam berbagai hal seperti pengajaran, nilai kejemaatan, kepemimpinan, struktur dan infrastruktur pelayanan dan pekerjaan misi.
Pada tahun 1988, jemaat ini mulai menggunakan gedung di kompleks Speed Plaza sebagai tempat ibadah dan sentra pelayanan. Jemaat ini kemudian didaftarkan pada Departemen Agama dengan nama Gereja Yesus Kristus Tuhan dan Yayasan Pelayanan Bersama Indonesia.

11. Timotius Subekti
Penuh mukjizat dan penyertaan Tuhan, itulah 40 tahun perjalanan yang dilalui GBT. Kristus Alfa Omega yang didirikan oleh Pdt. Ir. Timotius Subekti. Ucapan syukur dan pujian hanya bagi Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja. “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” (Roma 11:36).
Kisah Ir. Timotius Subekti untuk menjadi hamba Tuhan sungguh sangat berliku. Apalagi, Subekti yang lahir pada 28 Juni 1941 ini waktu kecil dikenal gagap. Bahkan, ketika masih di Sekolah Dasar sampai lanjutan pertama, banyak teman sekelas menyebutnya seperti kepiting rebus, sebab wajahnya selalu berubah kemerah-merahan ketika disuruh maju oleh guru.
Timotius Subekti lulus pendidikan sekular di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Teknik Telekomunikasi. Ia selesai di universitas bergengsi itu pada Desember 1963 dan diwisuda April 1964. Setelah lulus kuliah, anak ketiga dari pasangan Yap Lien Tek dan Tan Swan Nio ini diterima sebagai pegawai negeri di Departemen Pertambangan yang saat itu menterinya dijabat Chairul Saleh.
Awal mula persekutuan dimulai pada Februari 1968 di rumah anak dari saudara ibunya yang bernama Ibu Tan Tiek Hie di Jl. Thamrin 68. Di rumah yang juga menjadi tempat jualan arang ini, Subekti mulai menggembalakan beberapa orang. Anggota-anggota persekutuan waktu itu adalah keluarga Tan Tiek Hie, Ibu Ngapiah, Ibu Munaryo, Ibu Rakinah dan Ibu Nafsiah.
Selain memimpin persekutuan di rumah Jl Thamrin, Subekti juga mengajar di beberapa tempat, antara lain di Lembaga Pendidikan Theologia Abdiel untuk mata kuliah Arkeologi, di Universitas Satya Wacana Salatiga untuk  mata kuliah Elektro (1968-1972), kemudian di Akademi Teknik Nasional Semarang dengan mata kuliah Teknik Elektro serta di SMA Nusaputera dan Karangturi sebagai guru agama Kristen.


12 komentar:

  1. anda belum tau PDT ISHAK LEO yah Bro

    BalasHapus
  2. Belum pernah Pak. Terima kasih atas masukkannya. Tapi saya juga mencari di google tp tdk ketemu biodatanya dan sejarah hidupnya. Kalau bapk/ibu ada biodatanya, boleh dikirim via email ke garrytengker@gmail.com

    BalasHapus
  3. Ulasannya bagus bgt - informatif, menarik dan cukup komprehensif. Thanks Pa Garry.

    BalasHapus
  4. punya info mengenai pendeta muhamad rizal solichin gak? yg org ciwidey..
    thx..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya tahu,beliau pernah datang ke gereja saya di surabaya. beliau manatan muslim yang menjadi gembala gereja

      Hapus
  5. Kenal Pdt. Ir Timotius subekti? , coba bisa baca biografinya bliau di situs resminya GBT kristus alfa omega semarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum pernah dengar, tapi terima kasih masukkannya. Saya juga coba masuk ke websitenya, tapi lagi ada masalah. Sekali lagi terima kasih yah.
      Tapi kalau ada datanya, saya bisa dikirim via email supaya saya juga bisa masukkan namanya. Ini sama sekali bukan untuk membuat daftar peringkat kok, tapi seperti daftar para Hamba Tuhan, siapapun boleh masuk.

      Hapus
  6. Trend gereja-gereja yang baru di dunia. Berapa lama mungkin bertahannya? Apa semasa hidup yang ditokohkan tersebut?

    BalasHapus
  7. Bagaimana dg pdt Yusuf Roni.?

    BalasHapus
  8. Shalom pak Gerry, saya tidak melihat adanya Pendeta/Pengkhotbah yang berasal dari salah satu Gereja terbesar di Indonesia yaitu GPdI (Gereja Pantekosta di Indonesia) yng notabene merupakan induk seluruh aliran Pantekosta di Indonesia serta gudangnya pengkhobah handal bahkan Ketua PGPI berasal dari GPdI yaitu : Pdt DR. MD Wakkary (Medan) saat ini sebagai ketua GPdI, ada juga Mantan Ketua yaitu Pdt A.H. Mandey (Jakarta), Pdt. J.E. Awondatu (Pengkhotbah serta pengarang beberapa lagu yg mungkin anda sering nyanyikan di gereja seperti : Pegang tanganku Roh Kudus, El Shaddai. Ada juga Pdt. MPH Bolang (Jakarta). Paramater yang anda pakai sepertinya sebatas dengan wawasan yang anda tau bro,...maaf kalo saya salah thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, benar sekali itu... Khususnya untuk Pdt. Wakary dan Pak Awondatu... SAya benar-benar mengagumi pak Awondatu..
      Apakah Anda punya biodatanya?
      Kalau ada pasti saya akan langsung masukkan.
      Kirim ke garrytengker@gmail.com

      Hapus
  9. Pdt. Obaja Tanto, Ps. Philip Mantofa, dan Pdt. Petrus Agung kok tidak ada?

    BalasHapus